SEKILAS INFO
: - Selasa, 22-09-2020
  • 4 bulan yang lalu / HMPS PBA UIN AR-RANIRY SERAHKAN BANTUAN PADA KORBAN BANJIR DAN LONGSOR PAYA TUMPI
  • 9 bulan yang lalu / AYO! KENALI HARI BAHASA ARAB INTERNASIONAL
  • 10 bulan yang lalu / PBA Saweu Sikula 2019
Kau Kah Mahasiswa ?
Oleh : Mahasiswa PBA

Layar putih di hadapanku masih kosong, persis kepalaku yang rasanya juga mulai kosong karena ternyata tempat ini lebih riuh dari perkiraan ku, padahal harusnya ada banyak hal yang bisa ku tuangkan disana. Rasanya aku salah pilih tempat.

Aku meraih gelas, menyeruput teh hijau yang permukaan gelasnya dipenuhi embun es, membuat tapak tangan ku basah. Aku mengalihkan pandangan dari layar, menatap lalu-lalang orang sejak tadi. Membuat tempat ini nyaris tak pernah memberi kesempatan sesaatpun bagi kursi-kursinya untuk kosong. Ramai sekali tempat ini oleh muda mudi, yang aku yakin 99% mereka adalah mahasiswa, sama sepertiku. Entah itu mahasiswa tahun pertama atau bahkan mahasiswa tua. Sebagian berkutat dengan laptop dan gadget, datang ketempat ini untuk sekedar menumpang wifi. Sebagian yang lain menjadi penyebab riuhnya tempat ini, tertawa-tawa. Entah apa yang mereka tertawakan. Seakan mereka datang tanpa beban apapun. Hei. Mereka-kah mahasiswa?

Miris sekali. Rasaku, ini sama sekali bukanlah kehidupan seorang mahasiwa.

Betapa banyak dari mereka yang pamit pada orangtua, meninggalkan kampung halaman, dengan alasan menempuh pendidikan sarjana. Orangtua yang tulus itupun melepas anaknya, memberi segala bekal yang mereka punya. Agar anaknya tak susah hidupnya semasa belajar, agar leluasa mereka menimba ilmu. Tak apa mereka bercucur peluh mengumpulkan rupiah, semangat mereka membara membayangkan anak-anaknya di luar sana tengah menempuh sarjana.

Tapi apa? Lihatlah. Yang jauh-jauh datang dengan alasan menimba ilmu, ternyata hanya datang untuk memenuhi warung-warung kopi. Sebagian yang lain tak peduli menghabiskan lembar-lembar rupiah hasil keringat orangtuanya untuk berselancar di dunia maya. Yang penting nilai ujian cukup, IP tidak anjlok, katanya. Padahal jika dikupas, isi kepala sama sekali tidak berkualitas. Duhai. Kasihan sekali para orangtua yang tidak tahu apa-apa itu.

Hei, mahasiswa. Dengarlah sebentar saja

Menjadi mahasiswa. Itu artinya kau tengah memikul amanah di kedua pundakmu. Disana ada harapan-harapan orangtua mu, pun juga masyarakat disekitarmu. Ada amanah yang kau tanggung untuk nantinya kau pulang dan ikut berkonstribusi pada orang-orang disekitarmu. Harusnya nanti kau tidak sekedar pulang dengan selembar ijazah dan deretan nama yang memanjang dengan gelar.

Lihatlah, Negara kita ini pun sekarang tengah tak menentu keadaannya. Naik turun, namun tampaknya lebih banyak turunnya. Terlebih pada pendidikan. Peringkat ke 57 dari 65 Negara di dunia. Amat sangat memprihatinkan. Lalu ditengah kekacauan ini, kau –hai mahasiswa- hanya duduk manis menyaksikan? Duhai. Ini Negaramu. Negara kita. Siapalah yang akan membuatnya lebih baik jika bukan kita. Masalahnya, bagaimanalah kita membuatnya lebih baik jika untuk memperbaiki diri kita sendiri pun kita enggan?.

Duhai. Kalau bukan kita –hai mahasiswa-, siapalah lagi? Adik-adik kita butuh penyokong, mereka butuh contoh untuk ditiru, butuh kakak-kakaknya untuk berbagi ilmu. Siapalah lagi jika bukan kita? Orangtua mengharapkan kita menjadi penerus, menggantikan posisi mereka kelak. Hai, lihatlah. Di tangan kitalah sejatinya nasib Negara ini ditentukan. Kalau kau tidak bisa berbuat banyak, setidaknya belajarlah sungguh-sungguh. Sehingga ketika nanti kau pulang dan terjun ke masyarakat, ada sesuatu yang dapat kau berikan untuk mereka. Setidaknya kau tidak hanya menonton, atau bahkan membuat Negara ini semakin kacau.

Hai, mahasiswa yang terlena dengan gelas-gelas kopi, yang terpaku kepalanya pada layar-layar, bangkitlah! Sadarilah bahwa kita tengah memikul amanah besar. Ada banyak harapan yang digantung di pundak kita. Orangtua kita, keluarga kita, orang-orang di sekitar kita membutuhkan kita yang dapat berkonstibusi memberikan sesuatu bagi mereka. Ayolah, Negara ini membutuhkan pemudanya. Dan pemudanya adalah kita.

Tempat ini masih ramai. Tepatnya, selalu ramai. Nampaknya aku salah tempat. Ini tentulah bukan tempat yang tepat untuk menyelesaikan tugas. Aku menutup layar laptop, membayar minuman ke meja kasir, beranjak pulang. Ada amanah yang harus aku selesaikan dan aku merasa tak punya waktu untuk sekedar menghabiskan segelas teh ditempat ini lagi. Karena tanggung jawab yang aku pikul ini besar, maka aku pun harus punya aksi yang lebih besar. Aku datang untuk kemudian menjadi seseorang yang berguna, bukan sekedar menjadi sarjana yang tak paham apa-apa.

Youtube

Arsip